Sariagri - Departemen Statistik Malaysia menilai perlunya memodernisasi sektor pertanian dengan meninjau kembali sektor itu sebagai sumber potensial yang mampu menyediakan kesempatan kerja dan meningkatkan investasi modal.
Kepala Departemen Statistik Malaysia, Datuk Seri Mohd Uzir Mahidin, mengatakan pandemi COVID-19 telah berdampak signifikan terhadap produk pertanian dan meningkatkan pentingnya ketahanan pangan.
“Penekanan pada stabilitas pasokan pangan diperlukan terutama untuk komoditas pertanian yang memiliki rasio swasembada yang tidak memadai dan ketergantungan impor yang tinggi,” ujarnya seperti dikutip Bernama.
Menurut Uzir, total impor sektor pertanian Malaysia meningkat menjadi RM98 miliar (sekitar Rp334 triliun) pada 2020, dibandingkan RM93,5 miliar (sekitar Rp319 triliun) pada 2019.
“Hal ini menunjukkan ketergantungan negara terhadap impor pertanian semakin meningkat untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Selama kurun waktu 28 tahun (1987-2015), ketergantungan Malaysia pada impor komoditas pertanian meningkat menjadi 13,7 persen dari 7,3 persen,” terangnya.
Meski begitu, lanjut dia, sektor pertanian tetap mampu memberikan kontribusi kepada negara melalui ekspor, terutama produk yang dihasilkan dari komoditas perkebunan seperti kelapa sawit, karet dan kakao. Total ekspor produk pertanian Malaysia tercatat mengalami peningkatan dari RM115,5 miliar (sekitar Rp394 triliun) pada 2019 menjadi RM118,6 miliar (sekitar Rp405 triliun) pada 2020.
Sektor pertanian berkontribusi 7,4 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada tahun 2020. Produksi sayuran di Malaysia meningkat 0,9 persen pada 2020 di mana Pahang menjadi produsen terbesar dengan kontribusi 35,1 persen, diikuti Johor (20,2 persen) dan Kelantan (12,5 persen).
Sementara, produksi buah menurun 0,7 persen selama periode yang sama, dengan Johor sebagai negara penghasil tertinggi di Malaysia dengan kontribusi 36,0 persen, diikuti oleh Pahang (13 persen) dan Sarawak (11,2 persen).
Video terkait:
http://dlvr.it/SGqRPX
http://dlvr.it/SGqRPX
