Sariagri - Harga kontrak sejumlah komoditas pangan menguat pada akhir perdagangan bursa komoditas Chicago Board of Trade (CBOT) pada Rabu (1/12) atau Kamis (2/12) pagi WIB. Disebutkan, kontrak gandum paling aktif di CBOT ditutup menguat 3,25 dolar AS menjadi 790,50 dolar AS per bushel.
Kemudian, harga kontrak jagung CBOT naik 4 dolar AS menjadi 571,50 dolar AS per bushel dan kedelai CBOT ditutup melesat 11 dolar AS menjadi 1.228,25 dolar AS per bushel.
Penguatan sejumlah komoditas itu menutupi beberapa kerugian dari sesi sebelumnya, setelah kekhawatiran investor mulai mereda terhadap varian Omicron virus korona yang akan menggelincirkan ekonomi global.
Sejumlah pedagang mengatakan gandum berjangka Chicago berbalik menguat. Demikian juga Jagung dan kedelai juga mendapatkan kembali kekuatan pada pembelian end-user. Penguatan ini menyusul harapan pembeli ekspor mencari kesepakatan ketika kedelai berjangka memimpin kompleks soy lebih tinggi pada hari itu.
"Kita masih memiliki margin kehancuran (kedelai) yang berada di kisaran 2 dolar AS hingga 2,50 dolar AS per bushel, dan ada pembicaraan bahwa China kembali ke pasar mencari lebih banyak kedelai karena penurunan harga ini," kata Don Roose, Presiden US Commodities.
Tetapi, laju komoditas berjangka tersendat di akhir sesi, setelah pejabat pemerintah mengumumkan bahwa kasus pertama varian Omicron Covid-19 di Amerika Serikat terdeteksi di California.
“Pasar biji-bijian bergejolak dalam beberapa hari terakhir, terutama gandum berjangka,” kata para pedagang.
Gandum terlihat rentan terhadap likuidasi setelah investment funds meningkatkan long position bulan lalu saat reli ke level tertinggi sembilan tahun di bursa Chicago dan rekor tertinggi di Euronext, patokan Eropa.
Pasar gandum melonjak dalam beberapa pekan terakhir karena kemungkinan lebih banyak pembatasan ekspor Rusia dan risiko kerusakan akibat hujan pada tanaman Australia mengipasi kekhawatiran pasokan gandum penggilingan yang ketat.
Pedagang komoditas juga mencermati pergerakan kebijakan moneter Amerika, terutama kaitannya dengan guncangan pasar setelah Chairman Federal Reserve, Jerome Powell mengatakan risiko inflasi meningkat, yang mengindikasikan tapering segera dikeluarkan.
Video Terkait:
http://dlvr.it/SGyWNS
http://dlvr.it/SGyWNS
