Sariagri - Pohon pulai (Alstonia scholaris) menjadi salah satu komoditas yang dapat menghasilkan keuntungan besar. Salah satunya seperti Achmad Nasrullah, Ia sukses membangun usaha budidaya pulai dengan omzet rata-rata per bulan mulai dari puluhan hingga ratusan juta.
“Tanaman pulai ini amat menjanjikan karena punya banyak kelebihan, baik dari sisi manfaat, estetika, dan ekonominya. Background saya bukan pertanian, tapi hobi saya mengantarkan pada pulai yang bisa menghasilkan keuntungan,” ungkap Nasrullah dikutip dari Youtube Jagadtani TV.
Di kebun miliknya yang berlokasi di bilangan Bintaro, terdapat dua jenis pulai yaitu pulai putih dan pulai hitam. Ia menjelaskan, perbedaan antara keduanya yaitu pulai putih memiliki batang berwarna putih dan daun yang lebih lebar. Sedangkan pulai hitam memiliki batang berwarna hitam dan daunnya lebih kecil.
“Dari segi harga, pulai putih lebih mahal dari pada pulai hitam. Misalnya pulai putih itu harganya kisaran Rp10 juta per pohon, dan kalau pulai hitam harganya Rp7 juta,” ungkapnya.
Secara umum, lanjut Nasrullah, pohon pulai berfungsi sebagai perindang, penyerap karbon dan kulit batangnya bisa digunakan sebagai obat tradisional atau jamu untuk mengobati kulit memar.
Pohon pulai milik Nasrullah telah terjual ke berbagai daerah, bahkan paling jauh Ia pernah mengirim pulai ke Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur) dan Sulawesi.
Menurut Nasrullah, harga pulai akan semakin mahal jika usianya semakin tua dan memiliki karakter bonggol yang unik.
“Bahkan di kebun saya ini ada pohon pulai yang langka, usianya sudah ratusan tahun dan saya jual dengan harga Rp80 juta h Rp100 juta per pohon,” papar Nasrullah.
Tak heran, dengan harga semahal itu, Nasrullah mengaku mendulang banyak keuntungan dan bisa meraih banyak pencapaian dalam hidupnya selama berbisnis pulai.
“Alhamdulillah dari pulai saya bisa beli kendaraan, bangun kontrakan, menafkahi keluarga saya dan pergi ke tanah suci,” kata Nasrullah.
Video terkait:
http://dlvr.it/SJ3Lv7
http://dlvr.it/SJ3Lv7
