Sariagri - Tingginya curah hujan di kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sejak sepekan terakhir membuat tanaman cabai para petani rusak dan tidak bisa dipanen. Seperti yang terjadi di Kecamatan Pringgasela misalnya, puluhan petani mengeluhkan busuknya cabai di lahan mereka, karena tergenang air hujan. Muhammad Sareh, salah seorang petani di wilayah tersebut mengaku kecewa karena ladangnya dibanjiri air hingga membuat buah cabai membusuk. Diakuinya, kedalaman air di ladang sampai menembus 1 meter. "Karena sudah lama tergenang air jadi buahnya begini. Air itu masuk terus karena ladang kami tanahnya dalam jadi air ngumpul disini hingga menyentuh buahnya" ucap Muhammad Sareh kepada Sariagri, Selasa (30/11/2021). Tidak hanya itu, pihaknya juga mengklaim harus merugi karena harga jual cabai yang anjlok mencapai Rp 7 Ribu per kilogramnya saja, padahal sebelumnya cabai bisa dijual seharga Rp 15 Ribu perkilogramnya. "Sudah harga turun, malah hujan datang, jadi bisa dibilang ini kita rugi total sudah," katanya.
Untuk meminimalisir kerugian, Sareh memilih untuk tetap memanen cabainya yang rusak, karena masih bisa dikeringkan agar cabai bisa laku dijual di pasaran. "Sebetulnya bisa dijual tapi dalam kondisi kering, jadi kita keringkan dulu cabainya," ucapnya. Sareh dan para petani lain di Lombok timur berharap agar pemerintah daerah melancarkan distribusi pupuk subsidi serta memberikan bibit tanaman untuk meringankan beban produksi mereka saat musim tanam nanti. "Agar bisa dibantu juga karena mereka pasti tau kita ini rugi," pungkasnya.
Video terkait:
http://dlvr.it/SGdJxQ
http://dlvr.it/SGdJxQ
